Air mengalir, udara berhembus, alat ukur mengukur.
Kelihatannya sederhana. Tapi dalam dunia pengukuran tekanan, ketiganya memiliki peran yang sangat penting.
Tekanan dapat dihasilkan dan disalurkan melalui media yang berbeda. Pada sistem pneumatik, tekanan dibangkitkan menggunakan media udara. Sementara pada sistem hidrolik, tekanan ditransmisikan menggunakan media cairan.
Keduanya memiliki prinsip yang sama: menghasilkan tekanan yang dapat digunakan sebagai besaran uji untuk mengetahui respons sebuah alat ukur tekanan.
Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur tekanan tersebut adalah pressure gauge.
Pneumatik dan Hidrolik: Berbeda Media, Sama-Sama Menghasilkan Tekanan
Dalam kalibrasi pressure gauge, pemilihan sistem pembangkit tekanan tidak dilakukan secara sembarangan.
Untuk aplikasi tertentu digunakan sistem pneumatik, yang memanfaatkan udara sebagai media tekanan. Sistem ini umum digunakan untuk rentang tekanan yang relatif rendah dan aplikasi yang tidak sesuai menggunakan cairan.
Sementara itu, sistem hidrolik menggunakan cairan sebagai media untuk membangkitkan dan meneruskan tekanan. Cairan yang digunakan dapat berupa air maupun fluida tertentu, tergantung pada sistem dan kebutuhan pengujiannya.
Secara sederhana:
Pneumatik → udara → tekanan → pressure gauge
Hidrolik → cairan → tekanan → pressure gauge
Media boleh berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama: memberikan tekanan yang diketahui kepada alat ukur untuk dilakukan pengukuran dan pembandingan.
Lalu Apa yang Terjadi Saat Kalibrasi?
Ketika pressure gauge dikalibrasi, pressure gauge tidak hanya “dikasih tekanan lalu dilihat jarumnya”.
Pressure gauge dipasang pada sistem pembangkit tekanan bersama dengan standar tekanan.
Tekanan kemudian dibangkitkan pada titik-titik tertentu.
Misalnya pressure gauge memiliki rentang 0–10 bar, maka pengujian dapat dilakukan pada beberapa titik dalam rentang tersebut sesuai metode kalibrasi yang digunakan.
Pada setiap titik, nilai yang ditunjukkan oleh pressure gauge dibandingkan dengan nilai dari standar.
Contohnya:
Standar menunjukkan 5,00 bar
Pressure gauge menunjukkan 5,10 bar
Maka terdapat perbedaan antara nilai standar dan indikasi pressure gauge tersebut.
Perbedaan inilah yang kemudian dianalisis sebagai bagian dari hasil kalibrasi.
Kenapa Harus Ada Standar?
Karena pressure gauge hanya memberikan indikasi.
Jarum yang menunjuk angka 5 bar belum otomatis berarti tekanan sebenarnya tepat 5 bar.
Untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan indikasi tersebut, diperlukan pembanding yang memiliki kemampuan pengukuran dan ketertelusuran yang sesuai.
Oleh karena itu, dalam kalibrasi terdapat hubungan:
Pembangkit tekanan → tekanan uji → standar → pressure gauge → hasil pengukuran
Dari proses tersebut diperoleh data yang dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik pengukuran pressure gauge.
Kalibrasi Bukan Membuat Pressure Gauge Menjadi “Benar”
Ini bagian yang sering salah dipahami.
Kalibrasi berbeda dengan adjustment.
Kalibrasi bertujuan untuk memperoleh dan menetapkan informasi mengenai hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur dengan nilai yang direalisasikan oleh standar.
Jika setelah kalibrasi ditemukan penyimpangan dan alat memang membutuhkan penyetelan, maka adjustment dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan prosedur yang berlaku.
Setelah dilakukan adjustment, alat dapat dikalibrasi kembali untuk mengetahui kondisi pengukurannya.
Jadi, kalibrasi bukan sekadar:
“Pressure gauge ini benar atau salah?”
Tetapi lebih jauh:
“Ketika tekanan sebesar X diberikan, berapa nilai yang ditunjukkan oleh pressure gauge, dan seberapa besar perbedaannya terhadap standar?”
Air Mengalir, Udara Berhembus, Alat Ukur Mengukur
Pada akhirnya, proses pengukuran tekanan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana.
Air mengalir.
Udara berhembus.
Tekanan terbentuk.
Alat ukur mengukur.
Dalam sistem pneumatik, udara menjadi media pembangkit tekanan.
Dalam sistem hidrolik, cairan menjadi media untuk membangkitkan dan meneruskan tekanan.
Dan pressure gauge menjadi alat yang menunjukkan nilai tekanan tersebut.
Namun agar nilai yang ditunjukkan dapat diketahui penyimpangannya, diperlukan proses kalibrasi dengan standar yang tertelusur.
Karena dalam pengukuran, bukan hanya soal bagaimana tekanan diberikan.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan bahwa tekanan yang diberikan dan nilai yang ditunjukkan oleh alat dapat dibandingkan secara tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.